Selama seminggu sesudah itu, Aku selalu gelisah, tak sabar menunggu malam minggu berikutnya. Selalu saja terbayang apa yang kami lakukan malam itu dan masih kurasakan hisapan dan jilatan lidahnya yang luar biasa pada penisku yang membuat spermaku tersedot keluar begitu banyak sehingga lututku serasa mau copot.

Malam yang ditunggu-tunggupun akhirnya datang juga dan seperti malam minggu sebelumnya, jam 7 malam aku sudah ada di depan rumahnya dengan bayangan dikepala akan mendapatkan sesuatu yang nikmat seperti malam minggu sebelumnya atau bahkan mungkin lebih.

Elah membuka pintu dan menyambutku dengan mesra dan tatapan mata yang memancarkan luapan kerinduan yang menggelora bagaikan seorang gadis yang sudah bertahun-tahun tidak dijenguk oleh kekasihnya. Elah mengenakan kaos longgar lengan panjang dengan jilbab yang tak pernah lepas dari tubuhnya serta rok panjang yang longgar pula. Malam itu kulihat Elah sangat cantik dan menawan serta farfum yang dia kenakan begitu cepat membangkitkan kelaki-lakianku.

Dia mempersilahkan aku masuk ke ruang tamu dan aku duduk di sofa panjang. Elah masuk ke dapur untuk mengambil air dan penganan yang akan ia suguhkan padaku. Aku menantinya dengan perasaan yang tidak sabar. Setelah ia menyuguhkan air dan penganan di meja tamu, kemudian ia dengan manjanya duduk disampingku sambil menggelayut manja  dan berbisik “Saya kangen berat ke Akang… rasanya seminggu ‘ngga ketemu sama Akang bagaikan bertahun-tahun…” katanya diakhiri dengan mengecup mesra pipiku.

Badanku menjauh darinya seraya berkata-kata “Jangan begitu ach…malu dilihat sama Tetehmu atau keponakanmu !” sebab saat itu pintu ruang tamu belum tertutup sehingga aku masih bisa melihat keadaan ruang tengah.

“Tenang aja…Kang. ‘Ngga ada siapa-siapa. Teteh dan keluarganya lagi menjenguk Bapak dan Ema di Majalaya . Dan saya disuruh Teteh untuk jaga rumah..” katanya menerangkan kondisi rumah yang tidak ada siapa-siapa. Hatiku langsung berbunga-bunga membayangkan bahwa aku mungkin akan lebih bebas bermesraan dengan Elah yang cantik ini.

Maka tanpa ragu-ragu  tanganku membelai jilbab yang menempel dikepalanya dan bibirku langsung mencium bibirnya dengan gemas..

Serrr….darahku berdesir dengan  cepat menikmati bibirnya yang lembut dan basah menggairahkan. Dan Elahpun membalas ciumanku dengan tak kalah mesranya, mulutnya menghisap bibirku dalam-dalam seperti orang kehausan. Hisapannya demikian lama dan menghanyutkan. Tangannya dengan lincah mencopoti kancing bajuku satu persatu dan tangannya menyelusup ke bali bajuku dan langsung membelai dadaku dengan mesra serta memainkan putting susuku dengan memilin-milinnya.

Kemudiannya kepalanya mengarah ke dadaku dan menjilati serta menciumi seluruh dadaku memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat berahi bangkit dengan cepat. Aku dibuatnya melayang dan mendengus

“Ouhh…. Lah…Kamu kok pinter banget sich …?” kataku terbata-bata menahan nafas yang tersengal-sengal menahan nafsu. Penisku langsung mengeras dengan hebat.

“Kan…semua ini untuk Akang…, Orang yang Elah cintai dan sayangi..” katanya sambil terus menjilati dada dan leherku.

Tanganku secara naluri mulai menelusup ke balik kaos panjang yang Elah kenakan mencari-cari buah dada Elah yang bulat dan montok. Aku terpana dan heran, ternyata Elah tidak mengenakan BH. Aku berkomentar heran “Kok.. Elah ‘nggak pake BH ?”

“Khan…biar Akang gampang meremas-remas dan menciuminya, daripada nanti kancingnya copot lagi ” Jawabnya sambil tersenyum manis menggodaku mengingatkan kecerobohanku yang mengakibatkan kancing bajunya lepas seminggu yang lalu. Aku hanya tersenyum malu mengingat kebodohanku minggu lalu

Kaos panjang itu langsung aku tarik ke atas dan tanganku langsung meremas buah dada yang menggairahkan ini dan bibirku langsung menciumi dan menjilati buah dada Elah yang sebelahnya. Elah langsung mengerang dan melenguh dengan lepas tanpa tertahan “Ouh….Kang…ouh…”

Tangan dan bibirku terus dengan intensif mempermainkan kedua buah dada dan putting susu Elah yang sudah tegak menantang. Dan Kepala Elah terdongak dengan terus-menerus mengerang menikmati rangsangan yang kuberikan

“Euh…euh…euh…oh…Kang….Kang…”

Tanganku yang satu lagi mulai menarik rok panjangnya ke atas dan menari-nari mulai dari betis, lutut hingga paha kemudian mengusap-ngusapnya dengan lembut dan penuh gairah.

Elah semakin menggelinjang dan mengerang. Kemudian tanganku bergerak keatas menuju selangkangan Elah. Kembali aku terpana ternyata Elah tidak mengenakan CD, karena jariku langsung meraba bulu-bulu jembutnya Elah ketika tiba di selangkangannya. Aku terdiam dan memandangnya heran.

Rupanya Elah mengerti akan keherananku dan langsung menjawab “Biar praktis Kang, karena saya yakin pasti Akang akan membongkar CD Elah…Ya udah . Elah lepas aja “  katanya kembali menggodaku.

Aku langsung turun dari sofa dan dengan pantatku kudorong meja tamu ke belakang supaya badan dan wajahku bisa berhadapan dengan selangkangan Elah. Dan kusibakkan rok panjang itu Dan..

Deg…jantung seolah berhenti berdetak begitu melihat pemandangan yang baru kualami seumur hidup,  di hadapanku tampak vagina indah yang dihiasi oleh jembut-jembut yang lebat namun halus dari seorang gadis cantik yang masih mengenakan jilbab walaupun bentuknya sudah tak karuan.

Kembali naluri kelaki-lakian bekerja secara reflek, wajahku langsung menghampiri vagina indah yang menggairahkan dan membuat penisku semakin keras ini, bibirku langsung menciumi seluruh permukaan vagina itu tanpa ragu dan sungkan

Ouhh…. Betapa harum dan menggairahkannya vagina  ini. Bibirku menciuminya dengan penuh nafsu dan nafas yang tersengal-sengal. Lidahku bergerak dari bawah ketas sepanjang lipatan bibir vagina indah ini.

“Auh….auh….auw……Ouhh…Kang..ouh  kang “ Elah terus meracau seiring dengan bibirku yang bergerak tak bisa diam menciumi dan menjilati vaginanya yang menggairahkan ini.

Bibirku terus bergerak menikmati sensani  vagina yang baru pertama kali kurasakan. Hingga akhirnya Erangan, lenguhan dan kata-kata meracau yang keluar dari mulut Elah semakin sering dan nyaring dan gerakan badan yang melonjak-lonjak tak terkendali

“Ouh…Kang…Ouh…Kang…, saya … ‘ngga kuat…saya … ‘nggak kuat Ouuuuhhhh….”

Tiba-tiba Elah berdiri dan berkata “Jangan di sini Kang ! Kita ke kamar Elah aja” lalu tangannya menarik tanganku dan membingbing ku ke kamarnya. Dengan tergesa-gesa Elah menarik badanku menuju kamarnya  dan  tanpa menutup kamarnya kembali Elah langsung menarik badanku ke tempat tidur dan mendorongku hingga jatuh telentang dikasurnya yang empuk. Lalu dengan tergesa-gesa penuh nafsu tangannya berusaha membuka celanaku sekaligus dengan celana dalamku hingga bagian bawahku menjadi telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak dengan gagahnya. Aku merasa malu, karena baru pertama aku telanjang bulat di depan seorang gadis. Tampaknya Elah tak memperdulikan rasa maluku. Dia terus menyerangku, telapak tangannya meraih pangkal penisku dan mengocoknya, sementara mulutnya langsung melahap penisku dengan rakus dan penuh nafsu. Bibir dan lidahnya bekerja dengan lincahnya memberikan kenikmatan yang tak terperi sehingga aku terlonjak-lonjak dan melenguh…”Ouh…upsss  ouh….”

Elah terus memberikan kenikmatan padaku dengan mempermainkan penisku oleh bibir dan lidahnya. Sampai akhirnya dia merasa tak tahan dia berdiri dan mencopoti jilbab, kaos panjang dan rok panjang yang ia kenakan. Dihadapanku tampaklah seorang bidadari cantik yang telanjang sedang merangkak menghampiriku yang sedang telentang menahan nafsu yang menggebu.

Elah langsung memelukku , namun langsung kugulingkan dia hingga posisinya di bawah. Dan badanku bergeser ke bawah agar wajahku bisa berhadapan kembali dengan vaginanya yang sekarang tampak lebih indah dibandingkan dengan tadi waktu di ruang tamu karena sudah tidak terhalam oleh rok panjangnya lagi.

Bajuku belum lepas sehingga terasa mengganggu maka aku langsung melepaskannya dengan tergesa-gesa. Lalu kedua tanganku langsung merengkuh pantat Elah yang mulus menggairahkan dan bibirku kembali menciumi vagina Elah yang sudah semakin basah. Lidahku mengorek-ngorek liang sempit yang terhalang oleh lipatan bibir vaginanya

“Auw….auw…” jeritnya setiap kali lidahku menyentuh liang vagina Elah. Namun tanganku terus meremas pantat Elah dan lidahku terus mengulas-ngulas celah vagina Elah hingga nampak basah mengkilat

“Auwhhh … auwhhh…” jeritnya semakin panjang. Badannya terlonjak-lonjak tak terkendali lagi dan kedua tangannya mulai meremas dan mencengkram kepalaku seperti yang sedang menahan sesuatu, hingga akhirnya pantatnya menegang kaku terangkat ke atas  dan kedua tangannya menekan kepalaku hingga wajahku rapat dengan vaginanya disertai dengan jeritan panjang seperti tercekik..

“Aaaaaaakkhhh…..” Diakhiri dengan kedutan pantat yang menggetarkan tanganku dan liang di vaginanyapun berdenyut-denyut berkotraksi meremas-remas ujung lidahku yang sedang menelusurinya.

Lalu setelah itu…badannya terhempas dan dari mulutnya keluar desahan panjang

“Hhuhh……” disertai nafas yang tersengal-sengal seperti yang baru selesai melakukan lari sprint. Dan badannya diam lemas seolah tak bertenaga…

“Sudah dulu kang…. Saya cape…” katanya padaku.

Aku yang belum mengerti apa yang sedang terjadi hanya termangu sambil menahan nafsu yang masih menggebu. Kedua tangannya menarik lemah badanku agar bisa berhadapan dan berpelukan, kemudian dia berkata…”Akang…hebat… Saya baru aja keluar… Pacar saya dulu waktu di Aliyah ‘nggak pernah membuat saya bisa melayang dan menghempaskan seperti ini.”

“Tapi malah Dia saja yang keluar dan membasahi mulut atau selangkangan Elah setiap kali kami bercumbu” lanjutnya lagi.

“Oh  gitu…” sahutku..tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkannya, karena gairah nafsuku masih menari-nari dikepalaku dan penisku yang keras  dan tegang perlu penyaluran.  Aku menciuminya kembali untuk menuntaskan nafsuku. Dengan nafas yang memburu tangankupun bergerak liar membelai dan meremas buah dadanya montok menggemaskan, rasanya tak pernah bosan-bosan bagiku jika seharian aku harus mempermainkan buah dada indah ini.

Mulut, bibir dan lidah serta tanganku secara intensif terus-menerus secara konstan memberikan rangsangan-rangsangan kenikmatan kepada Elah. Usahaku berhasil, gairah Elah kembali bengkit dan Elah mulai membalas ciumanku dengan panas dan bergairah, Badan Elah bergelinjang-gelinjang menahan nafsu yang kembali membludak dalam dirinya. Tangan kananku bergerak kearah selangkangannya dan jari tengahku dengan lincah menari-nari dibelahan bibir vagina yang kurasakan basah, klirotisnya ku tekan dan kupilin. Elah mengerang…cukup keras “Ouh…..Kang…”

Kembali jari tengahku menekan klitorisnya dan menari-nari di atasnya, erangan dan lenguhannya semakin keras dan terengah-engah

“Auw…. Aouh….Oh…..Kang…, Elah ..  ‘ngga tahan…” Katanya mendesah seperti menahan derita nikmat yang tak terperi. Kemudian pahanya terbuka semakin lebar dan pinggulnya bergoyang-goyang erotis sambil mengerang dan mengeluh “Ouh….Ah….”

Aku sudah tak sabar dan naluriku menuntunku untuk memposisikan diriku diantara dua paha yang terbuka lebar dengan vagina yang berwarna merah muda mempesona. Dan kuarahkan ujung penisku ke depan liang vagina Elah, lalu dengan terburu-buru aku menekankan pantatku.

Penisku bukannya masuk ke dalam liang vagina yang sempit itu, tapi terpelset kea rah depan. Berkali-kali kucoba…., selalu meleset kadang ke belakang, ke samping atau kedepan. Keringatku semakin bercucuran dan dalam kati aku merasa malu pada Elah. Masa aku yang mahasiswa ini tidak bisa memasukkan penis yang sudah tegang kedalam vaginanya. Namun aku terus mencoba walaupun selalu gagal. Akhir aku menyerah dan berkata pada Elah

“Kok susah sich masuknya ? Akang sudah ‘nggak tahan nich..!”

“Pacar Elah juga dulu ‘nggak bisa masuk-masuk, makanya dia selalu keluarkan maninya di selangkangan Elah, karena udah ‘nggak bisa menahan nafsunya lagi. Jadi aja keluar diluar…”

Oh.. kalau gitu berarti vagina Elah masih perawan, sebab belum pernah diterobos oleh penis sebelumnya, pantas aja susah.

Setelah tahu bahwa sesungguhnya Elah masih perawan, maka aku mulai berhati-hati dan lebih konsentrasi. Jari-jariku menyibakkan lipatan bibir yang menutup liang vagina, kuperhatikan dengan seksama, ternyata di bagian bawah lipatan bibir vagina itu terdapat sebuah lubang yang sangat sempit. Aku arahkan kepala penisku yang sudah sangat tegang ke lubang yang sangat sempit itu. Kutekan secara perlahan pantatku agar ujung penisku menekan dan menerobos lobang sempit itu. Agak susah dan terlihat Elah menyeringai.

Kudorong lagi sedikit…., ujung kepala penisku agak masuk, kulihat Elah semakin menyeringai dan terlihat seperti meringis.

Kudorong lagi agak keras…, lobang itu terbuka sedikit. Elah menjerit lirih “Aduhhh Kang…”, Kuhentikan gerakanku tapi Elah berkata lagi “jangan hentikan Kang, terus aja.” Rupanya dorongan nafsu Elah mengalahkan rasa perih dari selaput darahnya yang mulai terkoyak.

Kudorong lagi dengan keras hingga kepala penisku bisa masuk kedalam liang vaginanya. Elah kembali menjerit lirih sambil menahan badanku “Aaauuuhhh…”. Sedangkan aku merasa nerveous begitu kepala penisku berada dalam liang vagina Elah. Berjuta-juta perasaan yang tak kumengerti melayang-layang diatas kepalaku. Aku tak bisa menjelaskan rasa apa itu. Setelah tahanan tangan Elah melemah, kembali kudorongkan penisku hingga amblas sampai ke pangkal paha

“Aukh…” jerit Elah sambil memeluk erat tubuhku. Kuhentikan gerakanku menikmati sensasi yang luar biasa ini. Setelah sensasi itu berkurang kucoba mencabut penisku sedikit demi sedikit. Pergesekan antara kulit penisku dengan dinding vagina Elah yang basah berdenyut menghasilkan kenikmatan yang tiada tara, demikian juga nampaknya bagi Elah, sebab jerit lirihnya diselingi dengan erangan nikmat

“Aduh….Ouh…..” antara perih dan nikmat dirasakan Elah secara bersamaan. Ketika hanya kepala penis yang masih tertanam di dalam liang vagina Elah, aku hentikan gerakan mencabut dan kudorong penisku kedalam untuk kembali menyelam menikmati sensasi gesekan penis dengan dinding vagina yang basah berdenyut tiada henti

“Ouh….” Erangku menahan nikmat

Gerakan keluar masuk penisku di dalam vagina Elah kulakukan berulang dengan kecepatan yang konstan. Jerit lirih kesakitan Elah telah hilang secara total tergantikan oleh sensasi kenikmatan yang juga pertama kali dirasakannya..

“Ouh…Kang….nikmat…, Ouh  Kang…. Ouhhhh…” demikian erangan dan lenguhan Elah keluar dari mulutnya berulang-ulang.

Hingga akhirnya pinggul Elah turut bergerak memberikan tambahan sensasi nikmat yang berlebihan bagi diriku maupun dirinya

“Auh…auh… hehh….”Dengusan dan erangan bersatu dalam keriuhan deru nafas kami. Rasa nikmat ini terus melayang-layangkanku dan Elah sehingga erangan nikmatku bersahutan dengan erangan nikmat Elah. Sehingga mengahasilkan suatu konser desahan kenikmatan yang bisa membuat terangsang bagi yang mendengarnya.

Gerakanku dan goyangan pinggul Elah semakin cepat dan mulai kejang-kejang tanpa dapat dikendalikan. Dan deraan nikmatpun semakin membuat kami lupa diri. Aku dan Elah terus mendengus dan mengerang bersahutan dengan gerakan yang sudah tidak beraturan lagi, seolah sedang menggapai nikmat yang semakin lama semakin bertambah tinggi.

“Ouh…Kang…., ouh…nikmat….ouh…..auwh…”  Elah semakin meracau

“Oh …  Lah…. Oh ….. heks.. heks….” Dengus nikmatkupun semakin nyaring

Tiba-tiba ada dorongan tenaga yang sangat besar dari dalam tubuhku yang tidak bisa kulawan. Badanku melenting kejang kaku, penisku tertanam dalam menekan vagina Elah hingga ke pangkalnya dan dari mulutku keluar jeritan nikmat yang panjang tak tertahan “Aaaahkkks…..”

Pada saat yang samapun Elah mengalami hal yang sama. Badannya melenting, kukunya menancam dipunggungku dan pinggulnya naik menekan selangkanganku serta kepala terdongak dan keluar jeritan panjang “Aaaaaaahhhhkkkks……..”

Sedetik kemudian…. Cret….cret…cret… spermaku keluar dengan derasnya membasahi seluruh rongga liang vagina Elah dan disambut dengan kontraksi yang sangat hebat dari dalam liang vagina Elah yang memeras dan memijit-mijit batang penisku serta menghisap-hisap seluruh sperma yang terpancar dari ujung penisku menghasilkan suatu puncak kenikmatan yang tak terbandingkan secara bersamaan yang kami rasakan.

Setelah itu, kurasakan badanku seolah melayang ringan jatuh terhempas diatas tubuh Elah yang juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan..

“Hhwahhhhhsss…..” napas kami  keluar seperti orang yang sangat kelelahan. Dengan napas yang ngos-ngosan kami saling berpandangan dengan rasa puas dan nikmat. Kemudian bibirku mencium mesra bibir Elah dan disambutnyapun dengan mesra “Wuih…. enak banget Kang…., baru kali ini Elah merasakan hal yang seperti ini “ katanya dengan nafas yang masih tersengal-sengal

“Akang juga sama geulis….. Ini adalah pengalaman pertama Akang..” jawabku.

Kemudian badanku kugulirkan kesamping tubuh Elah sehingga penis tercabut dari liang vagina Elah. Kuperhatikan ada lelehan sperma kental yang berwarna putih bercampur dengan warna kemerahan yang keluar dari liang vagina. Rupanya Elah memang benar-benar masih perawan. Jadi selama ini pacarnya belum memerawani Elah secara sempurna, mungkin karena kondisi lingkungan Aliyah atau pasentren tidak memungkinkan mereka berdua dapat melakukan persetubuhan dengan tenang sehingga percumbuan yang mereka lakukan selalu terburu-buru, sehingga pacar Elah yang dulu hanya memikirkan bagaimana agar spermanya cepat keluar tanpa bisa menembus selaput dara Elah yang mesih menjaga keperawanannya.

Kami berpelukan cukup lama mengumpulkan semua kesadaran yang sempat hilang sambil menormalkan helaaan napas yang tersengal-sengal akibat percumbuan yang demikian lama.

Sambil berbaring kuperhatikan tubuh gadis cantik yang biasanya berjilbab ini dalam keadaan telanjang  tergolek lemah. Oh… betapa indahnya…, betapa putih dan mulusnya…, tanganku membelai dan mengusap tubuh indah yang basah oleh keringat ini. Matanya memandangku mesra dan bibirnya tersenyum manis menggiurkan. Kucium lagi bibir lembutnya dan tanganku membelai serta meremas buah dadanya yang montok merangsang.

Tak terasa gairahku bangkit kembali, perlahan namun pasti penis mulai mengeras kembali. Dan Elahpun merasakan hal yang sama, gairahnya mulai bangkit kembali dan kembali kami berciuman dan berpelukan bergulingan di kasur.

Kami kembali bercumbu dengan penuh gairah dan penisku kuarahkan kembali ke liang vaginanya. Kali ini penisku dapat masuk dengan mudah,  dan persetubuhan kali inipun berlangsung lebih panas dan lebih menggairahkan dari percumbuan sebelumnya.

Percumbuan kami terhenti setelah aku melihat waktu telah menunjukkan jam 11.30 malam. Maka dengan terpaksa aku pamit pulang dengan janji akan mendatanginya lagi malam minggu berikutnya.

Bersambung…