Keesokkan paginya, pada saat sarapan bersama dengan keluarga kakaknya Aceng, terlihat perubahan yang sangat mencolok pada diri Ani. Wajahnya sangat ceria walaupun terlihat kurang tidur,  secara sembunyi-sembunyi sambil makan dia sering melemparkan senyum bahagia padaku. Dengan seragam MTs dan jilbab yang dia kenakan,  dimataku Ani semakin cantik dan menggemaskan saat itu, dan tanpa dapat kutahan penisku langsung mengeras ketika aku teringat apa yang terjadi tadi malam. Setelah sarapan Suami kakaknya Aceng pergi kerja sedangkan Ani dan adik lelakinya pergi sekolah.

Hari itu, aku masuk kuliah jam 11 siang, sehingga aku akan tetap disana sampai aku berangkat ke kampus jam 10.30. Sekitar jam 8.30 pagi, kakaknya Aceng bilang padaku bahwa dia akan ke rumah temannya untuk keperluan bisnis sampingan dan mungkin pulangnya sekitar magrib. Dan dia memesan agar kunci rumah disembunyikan ditempat biasa apabila seluruh penghuni rumah lagi keluar rumah. Dan akhirnya akupun ditinggalkan sendirian di rumah itu. Sambil menunggu rumah, aku membaca buku-buku kuliah sebagai persiapan kuliah yang akan kuhadapi hari itu.

Sekitar jam 10, aku tersentak kaget dan sekaligus bahagia, karena Ani sudah pulang dari sekolah dan langsung menghampiri kamar yang kutempati, lalu kutanyakan padanya mengapa dia pulang lebih awal dan dia menjawab “Di sekolah ada kegiatan PKS (Pekan Kreativitas Siswa), jadi Ani pulang aja ach.. “

“Kenapa pulang , ‘khan kegiatannya seru dan heboh ?” tanyaku lagi

“‘ngga seru Ach… mendingan pulang.  “ jawabnya lagi.

“Ngga seru ..  atau pingin ketemu Aa ?” tanyaku menggodanya

“’ngga seru dan ingin ketemu Aa” jawabnya sambil mencubit pinggangku dengan manja

“Aduduhh…” jeritku pura-pura kesakitan, begitu cubitannya terlepas aku langsung berucap “lagi dong…!”. Ani kembali ingin mencubitku tapi aku menangkap tangannya yang telah siap mencubit pinggangku, lalu langsung kupeluk sambil kucium gemas bibirnya. Ani membalas ciumanku dengan penuh gairah, kami berciuman sambil berdiri, tanganku membelai jilbab yang dikenakannya sedangkan kedua tangan Ani memeluk erat pinggangku.

Ciuman itu berlangsung begitu lama dan menggairahkan,  hingga akhirnya terlepas karena masing-masing kami kehabisan napas. Napasku dan napas Ani begitu memburu didorong oleh gairah nafsu yang mengebu-gebu.

“Tadi di sekolah, Ani ‘ngga bisa tenang, ingat aja ke Aa..” katanya, dilanjutkan dengan mencium bibirku dan kedua tangannya meremas dan membelai kepalaku dengan penuh gairah.

“Apalagi Aa, sejak tadi malam susah tidur setelah Ani keluar dari kamar, ingat terus ke Ani… malahan di dalam buku kuliah Aa yang terlihat hanya wajah Ani…” kataku menggombal, sambil menyambut ciumannya dengan tak kalah bernafsunya.

Sambil berciuman, tanganku membuka kancing baju seragamnya satu persatu dan Anipun melakukan hal yang sama padaku, dia membuka kancing bajuku satu persatu, sehingga semua kancing baju yang kami kenakan telah terbuka semuanya. Aku langsung mencopot bajuku dan melepaskan baju seragam yang dikenakan Ani, baju-baju itu aku lemparkan ke lantai. Kemudian aku berusaha melepaskan kaos dalam yang dikenakan Ani, dia membantu melapaskannya, hingga kini aku telah bertelanjang dada sedangkan Ani masih mengenakan jilbab , BH , dan rok biru panjang seragam MTs.

Kembali Ani mencium bibirku dan tangannya membelai dada dan mempermainkan putting susuku membuat aku semakin terangsang. Tanganku mengarah ke punggungnya untuk membuka kaitan Bh yang dikenakannya, kali ini usahaku berhasil tidak seperti tadi malam, bh itupun terlepas dari tubuh mungil Ani yang semakin menggairahkan. Tangankananku langsung meremas-remas buah dada bagian kiri milik Ani. Ani mulai mengeluh “Ouhhh…ouhmmmnn…. Aa…ouh…”

Keluhan nikmat itu semakin memacu gairahku, kepalaku menunduk mengarah ke buahdada bagian kanan milik Ani, kukecup dan kujilati permukaan buah dada yang menggemaskan itu dengan penuh nafsu dan berakhir dengan memilin dan menghisap-hisap putting susu miliknya. Badan Ani bergetar dan erangan nikmat semakin nyaring keluar dari mulutnya “Auh..  Aa..   Aa..  ouh….   Aa….” Kepalanya terdongak dengan mata yang mendelik menahan nikmat yang menderanya. Penisku pun semakin mengeras hingga bagian depan celanaku menggelembung. Tonjolan dibagian depan celana panjangku ini menggesek dan menekan perut dibagian bawah pusar Ani membuat dia semakin bergairah.

Dengan gairah yang menyala-nyala, Ani mengusap penisku dari luar celana panjangku dengan gemas. Badanku bergetar, aliran darahku semakin cepat mengalir dan napasku semakin memburu terpompa oleh gairah yang semakin menggebu, sehingga hisapan, jilatan dan kulumanku pada buah dada Ani semakin panas. Tanganku menarik sleting rok biru yang dikenakannya hingga rok panjang tersebut terlepas turun dari pinggulnya menyisakan celana dalam berwarna pink yang menghalangi vaginanya yang terlihat basah oleh gairah yang menyerang tubuh Ani dengan hebatnya.

Tanpa membuang waktu, kulanjutkan dengan menarik cd berwarna pink hingga tubuh Ani benar-benar bugil dengan indahnya dan hanya menyisakan jilbab yang masih dikenakan menghalangi rambutnya nan indah. Napasku semakin sesak melihat vagina Ani yang indah dan menggairahkan, gairahku semakin terpompa cepat. Lidahku langsung terjulur dan menjilat-jilat permukaan vagina indah itu dari bawah ke atas. Badan Ani bergetar keras, kakinya terangkat dan dari mulutnya keluar teriakan nikmat yang cukup keras “Aaaakkhhhh….  Aaaa  ouhhh….  Enak… Aa … enak  aaakkhhhh….”

Teriakan nikmat itu semakin memompa gairahku, hisapanku semakin keras, jilatanku semakin cepat dan lidahku mengorek-ngorek liang vagina yang semakin basah oleh gairah. Tubuh Ani semakin keras bergetar, erangan serta teriakan nikmat semakin keras tiada henti keluar dari mulutnya yang mungil “Aa… Aa… aaaakhhh….  Auh…  enak..”

Tubuhnya menggeliat-geliat menahan nikmat yang teramat sangat.

Telapak tangan kananku meremas-remas pantatnya yang halus dan montok, sedangkan jempol jari tangan kiriku menekan dan memutar-mutar klitorisnya, sementara lidahku yang panas terus mengorek-ngorek liang vaginanya. Ani semakin terlonjak-lonjak merasakan siksaan nikmat yang datang bertubi-tubi tiada henti “Hoh..hoh..Aa…   ouh…aouh….” Teriakan nikmatnya semakin tak terkendali.

Tak kupedulikan teriakan itu, bahkan lidah dan jariku semakin liar mempermainkan liang vagina dan klitorisnya, hingga akhirnya kakinya terjinjit dan tubuhnya melenting kaku serta kedua tangannya menjambak keras rambutku sambil keluar teriakan panjang seperti  tercekik “Aaaaaaakhh…….   Hhhhhoooohhhhhsss…”  badannya limbung hilang keseimbangan dan terjadi kontraksi yang sangat keras pada pantatnya dan liang vaginanya menghisap-hisap lidahku dengan keras seraya mengeluarkan rembesan cairan kenikmatan yang terasa asin diujung lidahku. Lalu..  persendian lututnya seperti yang terlepas dan dia ambruk terjengkang ke belakang. Untung aku masih sigap menahannya…. Ani tergolek lemas di lantai kamar…, napasnya tersengal-sengal kehabisan napas.

Kupangku tubuhnya dan kuletakkan diatas kasur dan membiarkan dia mengatur napasnya agar kelelahan yang dideritanya mereda. Dia membuka mata dan memandangku dengan pandangan rasa puas yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata, lalu terpejam kembali menikmati sisa-sisa rasa nikmat yang masih terus menghampiri dirinya. Sementara itu aku melepaskan celana panjang dan celana dalam serta meletakkannya di lantai kamar dan merayap menghampiri Ani yang sedang tergolek diatas kasur.

Kuposisikan diriku berbaring miring menghadap tubuh telanjang Ani yang masih mengenakan jilbab yang sudah tak karuan dan basah oleh keringat. Kukecup bibirnya dengan lembut dan mesra. Ani membuka mata dan memeberiku  senyuman yang sangat manis, lalu dia membalas kecupanku dengan hisapan yang sangat dalam dengan napas yang belum sepenuhnya normal.

Penisku yang sangat keras dan tegang menekan selangkangannya, sehingga dengan gemas dan rasa penasaran, tangan kirinya meraih batang penisku dan mengocoknya secara perlahan sambil tersenyum memendang diriku.

Badanku bergetar dan rasa nikmat menjalar disekujur tubuhku, ketika Ani dengan inetnsnya terus meremas dan mengocok batang penisku. Kemudian dia berkata “Aa sekarang mah, punya Aa harus bisa masuk seluruhnya ke punya Ani seperti yang biasa Bapak dan Ibu lakukan. Jangan seperti tadi malam, hanya digesek-gesek aja..!” pintanya padaku penasaran ingin merasakan yang lebih seperti yang biasa ia lihat jika Bapak dan Ibunya bersetubuh.

“Ya…dech…, nanti akan Aa masukkan semuanya ke milik Ani…” sahutku sambil kembali menciumnya dengan gairah yang menyala. Ani membalas dengan gairah yang tak kalah menyalanya, rupanya gairahnya sudah bangkit kembali dan menuntut kenimkmatan yang lebih dari kenikmatan yang baru saja dia rasakan.

Disela-sela napasnya yang memburu , Ani berbisik mesra “Ayo..  dong Aa… sekarang…  masukin…  ouhhh..!” diakhiri dengan desahan nafsu yang terus memburunya.

Kubuka pahanya lebar-lebar agar dia mengangkang dan kuposisikan kedua lutut tepat dibawah pahanya,  kutarik kedua pahanya kearah pinggangku sehingga betisnya terangkat, kusibakkan bibir vaginanya agar liang vaginanya yang sangat sempit dan hampir tak telihat karena masih perawan, hanya terasa bagian itu sangat basah dan licin, lalu kuletakan kepala penisku yang sangat keras tepat di liang sempit tersebut.

Kudorong penisku dengan sangat perlahan, terasa liang yang sangatsempit itu memuai, namun belum sanggup meloloskan kepala penisku, kudorong lagi..  , liang itu semakin melebar, namun terlihat Ani meringis menahan sesuatu…

Kuhentikan gerakanku dan bertanya…”kenapa, Ni ? Sakit..?”

“’ngga apa-apa Aa…, terus aja…” jawabnya.

Ani merasakan vaginanya seperti karet gelang yang ditarik melebar, agak terasa perih…, namun ia tidak mau menghentikan, karena yang biasa dia lihat, ibunya begitu  sangat menikmati apabila vaginanya di dimasukki oleh batang penis bapaknya. Jadi Ani sangat penasaran, mengapa ia merasa perih. Mungkin belum pikirnya, oleh sebab itu ia tidak mau menghentikan apa yang sedang kulakukan. Ditambah lagi bahwa dirinya sedang diliputi oleh gairah nafsu yang menyala-nyala, sehingga rasa perih kalah oleh nafsu dan gairah yang melayang-layangkan dirinya.

Sementara itu aku merasakan nikmat yang tak dapat terkatakan ketika ujung kepala penisku dapat membelah liang vaginanya yang sangat sempit. “Ini baru ujung kepala penis sedah sedemikian nikmat apalagi jika seluruh batang penisku dapat memasuki liang vaginanya tentu aku akan merasakan jauh lebih nikmat” pikirku dalam hati. Maka aku lebih berkonsentrasi untuk dapat menembus selaput dara yang menghalangi liang vagina tersebut.

Kudorong lagi perlahan, liang itu semakin terkuak. Kepala penisku semakin terasa nikmat yang aneh dan agak terasa sakit akibat jepitan yang sangat ketat. Namun nafsu yang menggebu dan rasa nikmat yang aneh mengalahkan rasa sakit di kepala penisku demikian juga dengan Ani, walaupun terlihat meringis kesakitan namun dia tidak menginginkan aku menghentikankan usahaku ini, Ani semakin penasaran…

Kudorong lagi lebih keras, hingga liang vaginanya terkuak semakin lebar dan seluruh kepala penisku telah masuk kedalam liang vaginanya yang licin dan basah . Breettt… “Auw….saaakiiitt  Aa..!!” Ani menjerit kesakitan…, aku merasa ujung kepala penisku menembus suatu lembaran yang terkoyak dan terasa basah, namun rasa nikmat yang aneh itu membuatku tertegun dan nervous. Kuhentikan gerakanku dengan bagian kepala penis menancap dengan eratnya pada liang vagina Ani. Kulihat Ani meringis dan menggigit bibir bagian bawah menahan rasa sakit karena ada bagian vaginanya yang terkoyak, namun anehnya dia tidak mendorong tubuhku untuk melepaskan penisku dari vaginanya, bahkan sambil meringis dan mata terpejam, dia memeluk tubuhku dengan erat  sehingga penisku kembali terdorong…,  “Aduhhh…Aa…  sakiitt….” pelukannya semakin erat.

Aku semakin bingung dan nerveous, namun rasa nikmat semakin menjalar disekujur tubuhku walaupun rasa sakit di kepala penisku akibat jepitan vaginanya tidak berkurang, tapi aku merasa kepala penisku seperti diremas-remas oleh selubung yang sangat halus namun ketat, remasan itu semakin menambah rasa nikmat yang kurasakan.

Dan kudorong lagi sehingga seluruh batang penisku masuk secara perlahan-lahan hingga mentok. “Aaahhh….  Aduh…. Aouh.. Aa” Tubuh Ani terguncang sangat keras ketika seluruh batang penisku tertanam dengan eratnya di dalam vaginanya. Namun aku merasakan nikmat yang luar biasa, karena seluruh permukaan kepala dan batang penisku seperti ada selubung yang sangat halus dan lembut meremas dan memijit penisku. Mataku terbeliak merasakan kenikmatan itu. Dan rasa sakit akibat jepitan vagina yang sangat ketat sudah tak kurasakan dan kuhiraukan lagi, mataku semakin nanar merasakan kenikmatan itu.

Lengan Ani semakin erat memeluk tubuhku,  tapi pantatnya semakin dia angkat dengan mata terpejam dan mulut yang meringis seperti kesakitan tapi penasaran sehingga selangkangan kami menempel sangat rapat. Kucium bibirnya dengan penuh nafsu, dan aku terkesiap, Ani membalas ciumanku dengan sangat ganas dan liar, disela-sela ringisannya, Ani tampaknya seperti merasakan kenikmatan yang membuatnya melayang-layang tinggi.

Kutarik penisku perlahan…

”aduuuhhh… auuh.. Aa” kembali ringisan kesakitannya terdengar, namun diselingi dengan erangan kenikmatan, pantatnya mengikuti tarikan penisku hingga menyisakan bagian kepalanya saja. Kudorong lagi perlahan…, terdengar erangan nikmat dan ringisan kesakitan secara bersamaan..”Auhh…..  Aa…adduuh…  aouh… “ kembali penisku amblas ditelan vaginanya yang rapat, namun remasan dan belaian didalam vaginanya terasa semakin keras dan bervariasi sehingga diriku semakin melambung nikmat.

Kutarik dan kudorong lagi perlahan, erangan nikmat semakin jelas keluar dari Ani walaupun terkadang ringisan kesakitannya masih tampak. Gerakan kocokan itu terus kulakukan dengan secara perlahan dan makin lama semakin lancar dan cepat

“Ohh…Ani..   ..  enak… aouh “ lenguhan nikmat keluar dari mulutku….

“Auh..Aa… Aa…  enak… ouh..” Ani membalas lenguhanku.

Aku semakin bergairah, nafsuku semakin membuncah di kepalaku, mukaku semakin merah dan darah semakin cepat mengalir, gerakan kocokanku semakin cepat dan vagina Ani terasa semakin basah dan licin.

Tampaknya rasa sakit yang dirasakan Ani semakin berkurang, bahkan kini secara naluri Ani mulai membalas gerakan pinggulku dengan menggerakan pinggulnya dengan penuh gairah sambil tak putus-putusnya erangan dan jeritan nikmat keluar dari mulutnya

“Aahh….  Aahhh..  Aahh….  Aahhh…”

Makin lama gerakan dan erangan Ani semakin liar,  kedua tangannya bukan hanya memeluk punggungku dan kukunya mencengkram erat kulit punggungku sambil menghentak-hentakkan tubuh agar dadaku beradu dengan buah dadanya dan pinggulnya melonjak-lonjak liar serta teriakan-teriakan yang semakin nyaring.

Aku melihat buah dada montok Ani berguncang-guncang sangat keras dan semakin terlihat indah dan menggemaskan. Mulutku menghisap-hisap dengan keras buah dada itu sehingga meninggalkan tanda merah disana sini. Ani semakin melayang kepalanya semakin terdongak dan pinggulnya semakin bergerak liar

“Oooouuhhhh….  Ouh…  ouh…  “ erangan nikmat tiada henti-hentinya menyertai setiap gerakan Ani.

Tanpa kusadari gerakankupun semakin liar dan gerakan pantatku menghentak-hentak dengan kerasnya sehingga terdengar suara

PLOK… PLOK….  yang cukup nyaring

Napasku tersengal-sengal namun pantatku bergerak cepat tak terkendali

Rasa nikmat semakin membuat diriku melayang-layang. Dan tampaknya Anipun merasakan hal yang sama, karena gerakannyapun semakin liar dan melonjak-lonjak tak terkendali.

Tiba-tiba aku merasakan darahku mengalir sangat cepat dan berkumpul pada suatu titik dan aku merasakan ada gelombang yang menghantam tubuhku membuat tubuhku terbang melayang sambil menjerit nikmat “Aaaakkhh…..”, badanku melenting kaku dan penisku kutancapkan dalam-dalam ke dalam liang vagina Ani. Dalam waktu yang bersamaan Anipun merasakan hal yang sama, Dia merasa dihantam oleh gelombang yang sangat dahsyat yang menerbangkan tubuhnya dan Anipun menjerit sangat keras “Aaaaaaakkkhhhh…” dan tubuhnyapun melenting kaku dengan kepala terdongak kebelakang.

Selama beberapa detik, badan kami melenting kaku,  kemudian CRETTT… CRETTT…   sperma kental dan panas tersembur dari penisku jauh kedalam ujung rahimnya dan dibalas dengan kontraksi yang sangat hebat didalam vagina Ani yang memelintir dan menghisap-hisap membuat mataku semakin nanar oleh kenikmatan yang teramat sangat. Lalu  seperti bangunan yang tiang penyangganya patah karena kelebihan beban, tubuh kami pun terhempas dengan sangat keras

“Hhuuhhssss……” keluhan kelelahan bagaikan koor … keluar secara bersamaan dari mulut kami, tubuhku ambruk menindih tubuhnya, kugelosorkan tubuhku ke samping tubuhnya dan kami berdua telentang terkapar tak berdaya…

Seluruh persendian kami terasa seperti dilolosi dan selama beberapa detik kami tak mampu menggerakkan tubuh, yang terdengar hanyalah dengusan napas tersengal-sengal kelelahan yang saling bersahutan yang keluar dari mulut kami berdua.

Selama beberapa menit kami terkapar tak berdaya, hanya tangan kiriku dan tangan kananya saling mengenggam erat saling berbicara tanpa kata.

Setelah rasa lelah kami berkurang…, aku bangkit menghampiri Ani yang masih telentang tak berdaya, kukecup lembut bibirnya seraya berkata “Aa sayang ke Ani…” Ani memandangku dan tersenyum, kemudian membalas kecupanku dengan mesra. Dan kamipun berpelukan erat. Kali ini kurasakan nuansa yang lain dalam berpelukan. Aku merasa sangat sayang padanya dan merasa nyaman memeluknya. Dan nampaknya Anipun merasakan hal yang sama, dia memeluk erat tubuhku dan menyusupkan kepalanya didadaku. Tidak ada nafsu dalam pelukan ini, benar-benar pelukan yang membuat perasaan menjadi nyaman dan damai. Cukup lama kami merasakan kedamaian dalam pelukan ini hingga aku rasakan tubuhku benar-benar pulih dari lelah yang  tadi menghantamku.

Ani melepaskan diri dari pelukanku dan bangkit dari tidurnya. Dia memperhatikan selangkangannya kemudia menjerit tertahan “Aaahh   Aa..”. Aku kaget dan bangit dari tidur lalu bertanya “Ada apa, sayang..?”

Ani tidak menjawab, hanya matanya memandang kaget ke selangkangan dan sprei yang ditindihnya, tampak ada noda merah darah disekitar selankangannya dan sprei yang ditindihnya bercampur dengan cairan sperma yang keluar dari liang vaginanya. Air matanya meleleh dan berucap..”Aa…  saya … “ , dia melanjutkan ucapannya.

Aku mengerti apa yang menjadi kesedihannya, aku dekap ia dengan rasa sayang yang tulus dan berkata “Aa…  akan bertanggung jawab, kalau terjadi apa-apa pada diri Ani. Jangan takut… Aa sayang ke Ani.. percaya ke Aa” Aku menenangkan dirinya sambil mencium lembut kepalanya yang masih tertutup oleh jilbab yang sangat kusut.

Ani merasa tenang mendengar ucapanku… dan ia membalas erat pelukanku serta menyusupkan kepalanya kedalam dadaku. Ia merasakan damai disana.

Tiba-tiba.. diluar terdengar teriakan adiknya Ani..

“Assalamu’alaikum..! Teh…  Teteh….” Rupanya adik Ani yang duduk di SD sudah pulang dari sekolah mencari-cari kakaknya . Kami  tersentak kaget dan dengan terburu-buru kami mengenakan pakaian kami yang berserakan dan kulihat jam dinding, ternyata telah menunjukkan jam 12.15, pantas saja adiknya sudah pulang.

Setelah beres, Ani segera keluar kamar dan menghampiri adiknya “Ada apa Danu..?” kata Ani kepada adiknya seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian Ani mengurus adiknya dan mengajakku dan adiknya makan siang.

Hari itu aku tak jadi kuliah…, tapi sejak hari itu aku telah mengikat janji dengan Ani untuk menjadi sepasang kekasih, walaupun masih sembunyi-sembunyi dari Aceng dan ibunya. Tapi lama-lama hubunganku diketahui oleh mereka, dan aku bersyukur mereka merestui hubunganku dengan Ani berlangsung, mereka hanya berpesan agar aku jangan kelepasan, agar sekolahnya dan kuliahku tidak terganggu. Aku hanya mengangguk setuju.

Tetapi dibelakang mereka , secara sembunyi-sembunyi aku masih terus mereguk kenikmatan persetubuhan dengan Ani yang semakin lama semakin ahli memberikan kenikmatan padaku. Aku jadi semakin sayang dan cinta padanya dan semakin memantapkan hati untuk tidak akan meninggalkannya.

Ani

You are my sun shine….

You are my endless love…

You are my everything…

I love you so much….

TAMAT